Arsip Kategori: Artikel

PSIKOSOMATIS dan terapinya dengan KONSEP STIFIn

IMG_20160115_071907

Oleh: Solver Agung Purnomo

Definisi Penyakit Psikosomatis adalah penyakit yg disebabkan “Penyakit yang seratus persen dibikin sendiri, akibat selalu BERPIKIR NEGATIF!”

Psikomatis sendiri adalah penyakit gangguan kejiwaan yg menyebabkan bbrp fungsi organ utama tubuhnya terganggu dan menderita sakit.

Dalam kaidah Umum penyakit ini sembuh bila kita melakukan self healing atau dengan cara meningkatkan sisi spiritual

Bagaimana kaidah STIFIn menangani psikomatis ini?

SENSING
Tingkatkan frekuensi ibadah, untuk mengurangi ketakutan akan berkurangnya harta.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah swt senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar“. (Al-Baqarah: 152-153).

THINKING
Buang kesombongan yang menjadi penyebab kekhawatiran tahta terenggut oleh orang lain. Perbanyak
lakukan Introspeksi diri dan bertaubat.

”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

INTUITING
Buang Egoisme diri yang menjadi tinggi hati dan merasa karena ide2 brilian yg dibuat dan menjadi cemas ide2nya diambil orang. Perbanyak puasa Daud.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Nabi Muhammad SAW bersabda “Tidak ada puasa yang lebih utama dari puasa Dawud, yaitu puasa setengah tahun, yakni, puasa sehari dan berbuka sehari.” [Shahih Muslim, 1971]

FEELING
Perbaiki kualitas keimanan kepada Allah agar tdak merasakan kesedihan berlebihan sehingga muncul rasa ingin dikasihani oleh orang lain. Buang kebiasaan menyalahkan orang lain. Sebaliknya, berbagi sebanyak banyaknya agar mendapatkan ketenangan jiwa. Perbanyak Dzikir.

“Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik pengobatan adalah (dengan) Al-Qur’an.” (H. R. Ibnu Majah).

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS.Ar Ra’d : 28)

INSTING
Tingkatkan keimanan, perbanyak bersyukur agar hati damai. Bersegeralah bersahabat dengan orang-orang Sholeh/sholehah.

“Hai manusia!Telah datang nasihat dari Tuhanmu sekaligus sebagai obat bagi hati yang sakit ,petunjuk serta rahmat bagi yang beriman.” (QS.Yuunus : 57)

Semoga bermanfaat

Tes STIFIn ONLINE

Tips Memahami Anak

IMG_20151112_001023

 

Tes STIFIn ONLINE

PAHAMI JENIS TITIPAN

Dititipi amanah itu musti PAHAM jenis amanahnya..

Bahkan saat kita mau titip deliver barang saja, perusahaan penitipan akan tanya “isinya apa pak/bu?”
Kalau mudah pecah maka ditulis “fragile”.. Dan akan di treatment dengan lebih hati-hati..
Kalau titipannya makanan akan diberi tanda agar tidak tumpah..
Kalau titipannya alat elektronik juga diberi tanda agar tak mudah rusak..

Nah kita orangtua dititipi amanah yang begitu besar bernama ANAK..
Sudahkan kita pahami JENIS titipanNya???

Pertama pahami JENIS KELAMINNYA…
Anak laki atau perempuan?? Helloww beda lho treatmentnya..
Allah marah kalau ada yang saling menyerupai satu dengan lainnya…

Kedua, pahami JENIS MESIN KECERDASANNYA…
Mesin ini adanya di OTAK..
Kalau tahu jenis mesinnya maka kita tahu CARA BERFIKIRNYA
Beda mesin beda treatmentnya…

Ketiga pahami JENIS DRIVE MOTIVASINYA..
Apakah di drive dari dalam dirinya atau dari luar dirinya??
Beda lhoo cara menanganinya…

Keempat pahami Jenis KAPASITAS OTAKNYA…
Yang kapasitas memorinya besar dengan yang kecil beda lhoo jenis aplikasi yang bisa diinstall

Kelima, pahami JENIS GOLONGAN DARAHNYA…
manfaatnya utk memastikan dia anak kita atau bukan hehehe (pelajari ilmu biologi SMP, Red)
Selain itu kita jadi tahu respon awal menerima stimulasinya akan seperti apa
Saat urgent membutuhkan transfusi pun kita tahu harus mencari bantuan jenis apa,..

Naaahhh… Sudah pahamkah kita dengan JENIS TITIPANNYA???

Kalau belum, hati-hati kena konsekuensi dosa karena enggan mencari ilmu…

Semoga menjadi inspirasi untuk mau meraih rejeki berupa ilmu.. Aamiin

*misshiday*
Singspirer
PU PARENTING PROGRAM
STIFIn Institute

Copypaste dari Grup Alumni WSLP

Tes STIFIn ONLINE

STIFIn, Jalan Spiritual

 

wpid-imagesOleh: Wahyudin Qasal

Jika aku ditanya, bagaimana STIFIn bagimu? Bagiku STIFIn itu jalan spiritul. Sebagai jalan spriritual karena:

1. Jalan untuk mengenali diri sendiri. Jalan untuk mengenal Tuhan adalah dengan mengenali diri sendiri. Para ulama sering berkata:

من عرف نفسه فقد عرف ربه.

Walaupun dari sisi ilmu tasawuf, mengenal diri sendiri bisa menyentuh sisi lain lebih dari yang dijabarkan STIFIn. Namun STIFIn telah menjadi pondasi untuk langkah selanjutnya.

2. Sebagai jalan untuk mengenali orang lain. Tanpa perlu menertawakan yg berbeda dengan kita, tanpa perlu menghakimi pilihan peran yg berbeda dengan
plihan kita. Alih alih melakukan hal demikian lebih baik saling menerima.

3. Tentang kebaikan, orang akan berbeda- beda. Kebaikan bagi Sensing adalah adalah harta yg banyak, bagi Thingking adalah tahta, bagi Intuiting adalah ilmu, bagi Feeling adalah cinta, dan bagi Insting adalah kebahagiaan. Begitulah adanya, jika Intuiting menganggap yg terpenting adalah konsep, maka Thingking menganggap yg terpenting adalah  SOP, maka Sensing menganggap yg penting kerja. Feeling meneropong visi, akhirnya Insting selalu menjaga keseimbangan.

4. Pekerjaan itu tidak harus dengan uang sebagai target ujungnya, lebih dari itu, kenyamanan mengalahkan semuanya. Kenyamanan masing- masing mesin kecerdasan tidak akan pernah sama dengan  mesin kecerdasan lainnya. Oleh karena itu memaksakan dengan mengukur diri sendiri adalah kefatalan. Setiap orang punya ukuran tersendiri.

5. Dimana ada kelebihan di situ ada kekurangan. Bahkan kelebihan itu suatu waktu bahkan akan menjadi kelemahan di waktu yang lain. Saya bertemu dengan guru sufi baru baru ini, dari Tareqat tertentu. Di pertemuan itu saya menceritakan soal STIFIn, dia tersenyum lalu berujar,” jadi kalau begitu, apa yang memaksamu untuk terus angkuh dengan apa yg engkau miliki. Engkau ingin pamer harta kepada Insting padahal baginya adalah kebahagiaan yg utama? Engkau ingin pamer tahta kepada Intuiting, padahal dunia baginya dalam pandanganmu terlalu sempit. Ia punya dunia lain yg ia ciptakan sendiri
yg luasnya tak terjangkau olehmu, di sana ia bahkan menjadi raja. Bagaimana mungkin Intuiting harus berbangga dengan ilmunya kepada Sensing?Begitu seterusnya….”

6. Jalan surga setiap orang memang berbeda beda, sesuai dengan makanatnya, lanjut guru Sufi tersebut. Maka jangan pernah berburuk sangka jika menyaksikan orang yg terburu buru menyelesaikan shalatnya, setelah salam ia langsung bergegas keluar dari masjid. Boleh jadi ia lagi mengurusi keluarganya yang sakit, atau anaknya yg menanti kehadirannya di sisinya. Sebab jalan surga tidak harus melewati dzikir dan doa, tapi menafkahi keluarga juga adalah jalan surga. Yang ahli dzikir jangan lagi berbangga dengan zikirnya, yang ahli sedekah jangan lagi berbangga dengan sedekahnya, yang ustadz ahli ilmu gak lagi bangga dengan ilmunya.

7. Para sahabat Rasulullahpun tidak masuk surga dengan jalan yg sama. Bukankah Bilal terdengar terompahnya di surga karena wudhunya, bukankah Uwais al Qarni dijamin oleh Rasulullah di surga sebab berbakti pada ibunya, padahal di saat yg sama kumandang jihad sedang?

8. Akhirnya, STIFIn adalah seni mengelolah perbedaan…banyak lagi perbincangan kami…tak bisa disebutkan semuanya di sini. Trima kasih untuk gurunda kami Farid Poniman atas ilmu STIFIn ini. Semoga akan banyak manusia yg tercerahkan…

– puri taman sari, terinspirasi dari dialog bersama seorang sufi…maafkan, kutipan kalimat beliau mungkin gak persis sama–

Dicopy dari grup Alumni Workshop STIFIn Lisensi Promotor (WSLP)

MINAT Tes STIFIn ? KLIK dan DAFTAR TES

Promo2016-Banner Online 900pixel

 

“Apakah Aku PRODUKTIF, atau Hanya SIBUK ?”

Oleh: Monde Ariezta Al Hassan
(Productivity Coach)

Dalam perannya sebagai manusia, kita dituntut untuk menjadi manusia yang berusaha memakmurkan bumi memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada semesta, bekerja dan beribadah dengan baik, serta menjalani hidup seutuhnya. Untuk itulah manusia melakukan berbagai hal di dunia ini dan mengisi waktu-waktu hidup mereka. Namun sayangnya, dari sekian apa yang dilakukan manusia, ada yang melakukan itu semua dengan kuantitas dan kualitas yang baik, ada juga yang sebaliknya. Mereka hanya sibuk melakukan berbagai hal tanpa terasa besok adalah jatuh tempo dan hasilnya kurang memuaskan. Padahal kita dilahirkan ke dunia ini dan tumbuh dengan susah payah, tapi yang kita hasilkan hanya biasa-biasa saja.

Paling tidak ada dua tipe manusia, yaitu PRODUKTIF dan SIBUK. Banyak sekali sumber-sumber dan buku-buku yang menjelaskan apa itu Produtif dan apa itu Sibuk dengan berbagai versi dan berbagai sudut pandang. Dalam sudut pandang agama Islam misalnya, produktif digambarkan sebagai orang yang ingat jikalau ia besok meninggal, dan bekerja berkarya sehebat mungkin seolah ia akan hidup lama di dunia. Atau dalam surat Al ‘Ashr, bahwa manusia produktif itu adalah manusia yang tidak merugi dalam menjalani waktu, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, saling menasehati kepada kebenaran dan kesabaran. Apa maksud dari petunjuk-petunjuk itu, tentu tidak akan cukup dibahas di sini. Namun paling tidak kita sudah memiliki gambaran seperti apa produktif itu.

Dari kacamata STIFIn, produktif itu sederhana : Fokus-Satu-Hebat. Kalau diterjemahkan bebas dalam konteks manajemen waktu, fokus berarti mengerjakan hal-hal yang prioritas dan sesuai dengan keteraturan, satu berarti kuantitas yang dikerjakan sedikit pada hal-hal yang efektif dan berdampak besar bagi hidup kita di dunia dan akhirat (ingat hukum Pareto 20:80?), hebat berarti apapun yang kita kerjakan memiliki kualitas yang tinggi baik di hadapan diri sendiri, orang lain, maupun Sang Pencipta.

Maka bagaimana dengan Sibuk? Bisa kita balik dari Fokus-Satu-Hebat, yaitu Random-Banyak-Nanggung. Orang banyak terjebak bahwa Produktif itu mampu mengerjakan banyak hal, tanpa tahu maknanya. Sehingga apa saja dikerjakan, kerjaan apapun diterima, berbagai komunitas dan organisasi ia ikuti tanpa tahu di mana track profesi/kebutuhannya, dan lain sebagainya. Seolah itu semua tampak baik dan positif, namun sesungguhnya akan berdampak kurang baik di masa mendatang.

1. Jika mengerjakan hal-hal vital namun berkualitas tinggi, berdampak besar/luas, dan memberi kita hasil panen, itu produktif.
2. Jika mampu mengerjakan banyak hal namun tetap berkualitas tinggi, itu produktif.
3. Jika mampu mengerjakan banyak hal lewat pengelolaan waktu yang baik dan benar, itu produktif.
4. Jika seimbang antara hak dan kewajiban (berapa lama kita bekerja, berapa lama kita istirahat atau rekreasi, berapa lama kita beribadah, berapa lama kita berolahraga, berapa lama kita mengembangkan diri, dst), itu produktif.Dalam ilmu manajemen, Produktivitas secara sederhana dirumuskan dengan I/O dimana I adalah Input atau apa yang kita kerjakan, dan O adalah Output atau apa yang kita hasilkan. Dalam konsep STIFIn, menurut saya Fokus dan Satu adalah Input, dan Hebat adalah Output. Output yang produktif paling tidak harus memiliki salah satu atau semuanya dari 3 (tiga) kriteria :
1. Berkualitas (nilai hasil kerjaan kita)
2. Berdampak besar/luas (kaitannya terhadap diri sendiri, keluarga dan orang banyak)
3. Memberi kita hasil panen (misal kita bekerja dengan baik dan benar, maka suatu saat akan memperoleh pendapatan, kekayaan, kesejahteraan dan tentu saja wajib meraih nilai yang sangat baik di akhirat, yaitu Surga)

Maka dilihat dari 3 kriteria output Produktif di atas, STIFIn juga memberi sumbangan panduan untuk menjadi produktif ala masing-masing mesin kecerdasan manusia yang sudah dibekali oleh Sang Pencipta sejak lahir, misal :

1. Orang SENSING akan produktif jika ia lebih banyak menggunakan mobilitasnya untuk menghasilkan banyak hasil. Ia mampu menghasilkan kuantitas yang banyak, meskipun bisa jadi dari segi kualitas kurang, tapi ia akan memenuhi kriteria “berdampak besar/luas” dan “memberi kita hasil panen”. Jika ia banyak diam, malas dan jarang menggerakkan badannya, maka ia tidak akan produktif.

2. Orang THINKING akan produktif jika ia lebih banyak menggunakan kemampuan perencanaan, pengelolaan dan pengorganisasiannya dengan baik. Dengan begitu, ia akan mampu menghasilkan kualitas hasil yang baik, meskipun bisa jadi kurang berdampak luas karena lama di perencanaan yang akurat. Maka ia perlu mengasah kemampuan perencanaan dan keahliannya agar ia dapat bekerja lebih cepat untuk dampak yang lebih luas. Tidak masalah, sebab dengan begitupun ia akan mampu memberi dampak yang besar/efektif dan akan mendapat hasil panen yang juga berkualitas. Jika ia kurang mampu merencanakan dan mengelola pekerjaan2nya dengan baik, ia sulit untuk produktif.

3. Orang INTUITING akan produktif jika ia lebih banyak menggunakan kemampuan kreativitasnya dan keluasan ilmunya dengan baik. Dengan begitu, ia akan mampu menghasilkan kualitas hasil yang sangat baik, meskipun bisa jadi kurang berdampak luas karena lama di perancangan/waktu ekstra yang ia butuhkan. Maka ia perlu mengasah jam terbang agar ia dapat bekerja lebih cepat dengan kreativitasnya. Tidak masalah, sebab dengan begitupun ia, dan akan mendapat hasil panen yang juga berkualitas. Jika ia kurang mampu mengandalkan kreativitasnya dan keluasan ilmunya, maka ia sulit produktif. Latihlah kreativitasnya dan perbanyak ilmunya.

4. Orang FEELING akan produktif jika ia lebih banyak bekerjasama dalam tim dengan orang-orang di sekitarnya serta menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Dengan begitu, ia akan mampu menghasilkan ketiga kriteria Output produktif dengan baik. Jika ia acuh dengan interaksi sosial atau tidak mampu melatih kepemimpinan, komunikasi dan kerjasamanya dengan orang lain, ia akan sulit produktif.

5. Orang INSTING akan produktif jika ia banyak memultitaskingkan pengabdiannya dan membantu banyak orang, serta banyak berperan di berbagai aktivitas. Dengan begitu, ia akan membuat dampak yang luas dan memperoleh hasil panen, meskipun bisa jadi dari segi kualitas tidak begitu tuntas. Untuk itu, meskipun ia tipe generalis yang serba bisa, sebaiknya tetap menggunakan pola fokus-satu-hebat dalam konteks yg lebih spesifik, yaitu memilih ia akan banyak berperan di entitas mana. Jika ia acuh dengan lingkungan sekitar dan tidak banyak berperan dan membantu orang lain, ia akan sulit produktif.

Demikian gambaran antara produktif dan sibuk. Semoga memberi pencerahan dan wawasan baru, serta tentunya bermanfaat bagi kita untuk kita aplikasikan mulai sekarang. Terima kasih.

Copypaste dari Grup Telegram Alumni WSLP

Pendidikan Berbasis STIFIn, Masih Perlukah Homeschooling?

Oleh: Yusring Sanusi Baso

Khusus anggota baru KC 159, izin mengenalkan diri, saya Yusring Sanusi, saya Te. Istri Alhd satu dan semoga itu yg pertama dan terakhir, dunia akhirat. Istri saya In. Putra Sulung Ie, putri kedua Ie dan putri ketiga Ii.

Kami kenal STIFIn thn 2012 via Pak Mujahidin. Namun saya tes STIFIn akhir tahun 2014. Lalu ikut WSL1 bersama istri di kantor Cabang. Penjelasan Ust Alif dan diskusi lepas dgn Bu Andi Sengngeng semakin memantapkan kami menjadikan STIFIn sebagai salah satu konsep pengembangan diri. Tentu saja acuan utama adalah AlQuran dan AlHadist.

Agak lama waktu yang dibutuhkan baru kami dapat menetapkan STIFIn sebagai pilihan. Hal disebabkan karena kami telah mengenal berbagai metode pelejitan kecerdasan sebelumnya, di antaranya Multiple Intelligence, dan Otak Tengah. Bahkan kami pernah tes sidik jari DMG thn 2009 dg biaya Rp. 1,5 juta perorang. Jadi total yg kami bayar tinggal di kali LIMA. Semua kami lakukan untuk menyiapkan generasi masa depan.

Bersyukurlah kita yg telah mengenal STIFIn lebih cepat tanpa terlalu banyak perbandingan. Memang, perbandingan konsep dibutuhkan sebagaimana kita pun memilih kendaraan berdasarkan spesifikasi dan kebutuhan. Tapi, konsep STIFIn sangat luar biasa. Dengan Fokus Satu Hebat saja, konsep STIFIn sudah siap diadu de.gan konsep pelejitan kecerdasan lainnya.

Terkait dengan homeschooling, mungkin beberapa hal dari anggota KC 159 perlu dijadikan pertimbangan. Seringkali “homeschooling” dimaknai seakan akan MEMINDAHKAN SEKOLAH KE RUMAH. Homeschooling adalah pilihan bagi suatu keluarga untuk memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan anaknya. Boleh jadi pendidikan tersebut berbeda kurikulumnya dengan kurikulum sekolah formal.

Sejak tergabung dalam International Homeschooling Group tahun 2005, kami anggota yang ke-175 dalam grup ini dan pertama di Indonesia, disepakati terminologi homeschooling dengan beberapa varian, di antaranya:

1. Fully Homeschooling
2. Partly Homeschooling

Jenis pertama dipilih oleh keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan “khusus”. Kebutuhan khusus adalah kebutuhan bagi keluarga itu, khususnya anak yang tidak mungkin diperoleh di sekolah. Beberapa anggota grup kami, khususnya keluarga Yahudi Australia memilih pola ini karena tidak tersedia pelajaran Yahudi di bbrp sekolah di Aussie.

Hanya saja, Undang undang Australia memungkinkan pendidikan homeschooling mendapatkan ijazah sesuai jenjang, tanpa melihat umur. Ujian dilakukan secara nasional dengan kurikulum standar nasional pula. Bagi anak2 yg mampu lulus dalam kompetensi tersebut, maka berhak memperoleh ijazah di setiap jenjangnya. Jadi jangan heran jika usia belia, belasan tahun namun sudah sarjana. Perlu diingat bahwa syarat kelulusan standar nasional bukanlah ujian nasional UN seperti di negara kita.

Homeschooling jenis kedua adalah kerjasama dengan sekolah. Nanti ujian baru ikut di sekolah di mana anak yang dimaksud tercatat. Tetapi pendidikan keseharian dilaksanakan di rumah. Kurikulumnya menggunakan kurikulum sekolah.

Pola kedua ini kami telah lakukan untuk putra kami yg pertama dari SD sampai SMP. Tercatat di SDIT Ar Rahmah, lalu ke sekolah saat ujian semester. Begitu pula dengan si Sulung wkt SMP, tercatat di Pesantren Shohid lalu ke pondok saat ujian semester. Nanti SMA lalu 100% sekolah formal di Insan Cendekia Gorontalo.
Putri kedua juga demikian di SDIT Ar Rahmah. Namun, hanya sampai kelas 4. Di kelas 5 dan 6, karena sudah cocok pola pendidikannya, maka ikut kelas 100%. Adapun putri ketiga, hanya sampai usia TK. Sudah enjoy dengan pola pendidikan di SDIT ArRahmah.

Sekedar info, saya pernah menjabat sebagai ketua komite sekolah di SDIT ArRahmah selama 5 tahun. Selama menjabat itulah, kami mengenalkan pendidikan manusia sebgai manusia. Memang pd awalnya, sebagian besar guru resisten, kecuali kasek dan wakaseknya wkt itu. Namun, Alhd akhirnya semua model yg kami tawarkan berterima.

Homeschooling dapat dilakukan secara berkelompok dengan bekerjasama antar orang tua. Setiap orang tua meluangkan waktunya dan  mendidik anak anak mereka sesuai dengan bidang keahlian dan kepakarannya.

Ada kecenderungan masyarakat kita melakukan “homeschooling” dengan membayar guru privat. Sebenarnya ini boleh boleh saja. Tetapi secara konsep tidak sesuai. Pola ini lebih mirip atau lebih cocok disebut Les Privat.

Homeschooling bermakna ada keterlibatan langsung orang tua dalam mendidik anak anaknya karena merekalah yang lebih tahu tentang kebutuhan khusus anak anaknya tersebut.

Beberapa kegiatan Homeschooling yang kami lakukan telah tertinggal di www.youtube.com. Kata kunci untuk mendapatkan film2 kami tersebut adalah “homeschooling makassar”. Alhd sudah beberapa orang mendapat gelar master dan sarjana dengan me.jadikan kami sebagai objek penelitian. Bahkan teman sesama prodi sastra Arab, yaitu Helvy Tiana Rosa (prodi sastra Arab UI angk 89), pernah menginap di rumah kami selama 3 malam. Lalu lahirlah bukunya berjudul “Catatan Pernikahan”. Kami dibahas khusus pada salah satu bab dalam buku tersebut.

Sekiranya tahun 1997 STIFIn sudah ada dan kami kenal, mungkin kami tidak melakukan Homeschooling. APA BOLEH BUAT, waktu itu kami tidak mengenal STIFIn. Jadi kami BUAT APA yang BOLEH kami lakukan.

Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat, setidaknya saya dpt mengenang kembali perjuangan mendidik anak2 kami di rumah, meski pada waktu itu banyak “cemooh” dari keluarga dan tetangga. Tapi kami No Comment karena kami tahu mereka tidak paham dengan konsep kami.

Salam Sukses Mulia

#Copypaste dari Grup WhatsApp KOMUNITAS CERDAS 159. (KC 159)

GAYA BEKERJA BERDASARKAN KONSEP STIFIn

penilaian_kerjaSENSING

Untuk orang Sensing, bekerja berdasarkan data yg detail , urut, dan sukanya copy paste. Sehingga kalau mau melogikakan sesuatu atau juga buat konsep, sebaiknya copy paste. Dia jago untuk ďata hari ini dan data yg sdh berlalu. Tetapi utk memprediksi yang akan datang dia lemah. Kelemahan ini bisa diatasi dg meng copy paste orang Intuting yg sdh sukses, terutama dlm dlm  membuat konsep. Utk melogika sesuatu, sebaik meng copy paste orang Thnking yg sdh sukses.

THINKING

Thinking gaya bekerjanya adalah dengan melogikan segala sesuatu yg dihadapinya. Juga dia sebaiknya senantiasa berpikir logis, sistematis dan skematis. Utk meningkatkan kinerjanya, sebaiknya dia diberi tanggung jawab beberapa anak buah, karena bakat dia adl komandan. Karena orang Thinking sama2 otak kiri dengan Sensing, maka untuk data detail dan urut, dia juga mampu melakukannya dengan baik. Sedangkan karena Thinking juga merupakan otak atas sebagaimana Intuiting, maka dia pun suka hal2 yg terkait sistem, proses, SOP dan sejenisnya. Utk bisa membuat konsep, maka dia mengandalkan logika dulu sebelum buat konsep tersebut. Dan sebaiknya konsep atau SOP tersebut didasarkan pengalaman dia di lapangan.

INTUITING

Gaya bekerja orang Intuting adalah dia lebih suka berpikir global dulu baru detail. Dan juga suka berpikir tentang masa depan daripada hari ini. Maka orang Intuting agar hebat harus diberi porsi yg besar utk membuat konsep, baik itu konsep pemasaran, pelayanan pelanggan, produksi, kontrol kualitas. Dan  penggemblengan ini sebaik dilakukan dengan masive ( porsi yg besar ), kalo perlu sampe lembur2 dan under pressure ( penggemblengan ini juga berlaku juga utk MK yg lain sesuai gaya masing2 ). Kelemahan Intuiting adalah data detail hari ini dan kemarin. Untuk mengatasinya, perlu dicarikan anak buah atau partner kerja orang Sensing, dengan fungsi sebagai pencatat dan pengingat data2 tersebut. Kalo tidak ada, utk sementara orang Intuiting tersebut harus punya catatan harian tentang berbagai hal, dan setiap mau kerja harus membuka catatan tersebut.

FEELING

Gaya bekerja orang Feeling adalah senantiasa membangun kekompakan tim. Maka setiap hari orang Feeling harus memotivasi anak buah ( teman kerjanya ), membantu, menolong, mendamaikan ketika terjadi konflik, membuat skala prioritas, membuat cara agar bekerja bisa nyaman , melakukan lobi2 ke bagian lain dan juga kegiatan lain yang sejenis. Kalo misal dia bekerja di tempat yg tdk cocok dg MK nya, maka sebaiknya setiap hari mencari sesuatu yg baru dan menantang. Kalo dihadapkan dg sesuatu yg rutinitas, org Feeling akan cepat jenuh, ujung2nya akan resign.

INSTING

Gaya bekerja orang Insting : usahakan agar semua pekerjaan bisa dibuat simpel. Laporan anak buah atau laporan dia ke atasan harus simpel. Senantiasa bergerak utk mencari solusi di lapangan. Tekankan pada diri org In ini bahwa yg terpenting adl berkontribusi bukan jabatan. Jabatan dan gaji akan mengikuti kontribusinya. Juga agar senantiasa siap menjdi org generalis, yg selalu siap ditugaskan dimanapaun meskipun itu bukan pekerjaan utamanya. Sehingga kontribusi terbesar org Insting adalah membantu atasannya mengatasi semua masalah yg menjadi tanggung jawab atasannya.

REFRESING SETIAP MESIN KECERDASAN 

Utk menjadi stamina, perlu adanya refreshing tiap Mesin Kecerdasan.       SENSING agar banyak olah raga, bisa di tempat kerja ( di waktu yg disediakan ) maupun di rumah. THINKING agar banyak mobiling ( berkendara ) maupun go green : beternak, berkebun atau mengerjakan sawah ( tentunya pas libur kerja ). INTUITING nonton film detektif atau science fiction, atau juga bisa tidur sejenak sekitar 15 menit  FEELING banyak ngomong yg baik2, misal berorganisasi, dakwah, mengisi training dll ( bisa di rumah atau di kantor ).  INSTING banyak bersilaturahmi.

Copyedit dari Grup TELEGRAM Alumni Workshop STIFIn Lesensi Promotor  (WSLP) yang disampaikan oleh Bapak Sofyan Abdullah