Arsip Kategori: Testimoni

Mengikuti Kata Hati, By Ivan Dhana (Mesin Kecerdasan Feeling)

Ivan DhanaTerimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi. Semoga apa yg saya sharingkan ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan yang lain. Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri dulu. Nama saya Ivan Dhana. Profesi saya saat ini sebagai Human Capital di salah satu perusahaan di Tangerang. Disana saya beraktifitas sebagai trainer sekaligus tim yg mendesain program training utk seluruh karyawan di cabang yang ada di Indonesia.

Aktifitas saya ini, bagi saya merupakan profesi yang juga merupakan passion saya sehingga saya enjoy menjalaninya. Dan sesuai banget dengan Mesin Kecerdasan (MK) saya yaitu FEELING.
Yang unik adalah, jurusan saya kuliah dahulu sama sekali tidak mendukung profesi saya saat ini. Karena saya lulusan Akuntansi yang notabene berhubungan dengan angka-angka. Kalo saya sering menyebutnya, bukan feeling banget lah pokoknya. Sedangkan seperti yg kita ketahui bersama. MK Feeling itu memiliki ketertarikan pada hubungan antar manusia. Orang feeling paling enjoy ketika sudah ketemu dengan manusia lain.

Dengan kondisi diatas, bisa dibayangkan kan bagaimana perasaan saya ketika kuliah. Yaitu SANGAT TIDAK NYAMAN. Setiap hari berhubungan dengan angka-angka. Diskusi nya pun tentang angka-angka nominal biaya dll.
Ketika itu saya sama sekali belum mengenal STIFIn dan konsepnya, sehingga yang saya tahu ya diri saya ketika itu merasa tidak nyaman. Namun ketika itu saya menyadari bahwa kuliah adalah tanggung jawab saya kepada orang tua sehingga saya tetap berusaha menjalaninya,

Nah di tengah KEGALAUAN saya itulah kemudian saya berupaya tetap bertahan dengan mencari kompensasi. Saya menyibukkan diri dengan berbagai organisasi di kampus. Ada 4-5 organisasi yg saya ikuti.
Singkat cerita, saya akhirnya berhasil menuntaskan pendidikan S1 saya dengan lancar dan IPK yang tergolong baik dengan strategi kompensasi saya. Di perkuliahan saya dahulu itu pulalah saya mulai berkenalan dengan kek Jamil Azzaini ketika tanpa sengaja ngefans dengan tulisan beliau. Cuma karena dahulu saya tinggal di Jawa Timur, jadi hanya bisa mengikuti beliau lewat tulisan-tulisannya. Dan lewat tulisan beliau itulah saya mengetahui tentang STIFIn.

Sempat penasaran dengan apa itu konsep Mesin Kecerdasan dan pingin tahu lebih jauh, namun belum bisa tahu lebih dalam karen kendala jarak.
Setelah lulus kuliah, saya pun melanjutkan karir saya namun kali ini ternyata saya masih harus menghadapi situasi yang tidak ideal. Karena pekerjaan saya ketika itu di bidang keuangan. Setiap hari berhubungan dengan angka2. Alhasil diri kembali setres.
Tp di pekerjaan tersebut, saya menemukan “kompensasi” saya lagi. Yaitu untuk menghilangkan stress saya melakukan hal yg bisa membuat saya enjoy. Apa hal yg bisa bikin saya enjoy kira2? Nanti di akhir cerita akan saya buka.

Singkat cerita, stress saya pun terlewati dan tidak disangka saya mendapatkan kesempatan untuk mutasi ke Jakarta. Dan disinilah saya akhirnya benar2 memahami diri saya
Beberapa waktu stelah berada di Jakarta, karena saya senantiasa ngefans dengan kek Jamil Azzaini, maka saya berusaha untuk mendapatkan info tentang training beliau. Dan akhirnya saya kenal dengan Wanna Be Trainer (WBT). Sebuah training yg akhirnya membuka pikiran saya.

After Training WBT, saya jadi makin penasaran dan sekitar dua bulan after WBT, saya ikut WSL 1. Sekaligus Tes STIFIn utk pertama kalinya.
Hasilnya, saya akhirnya tau bahwa saya ber MK Feeling. Dari Workshop STIFIn Level 1 (WSL1), sekitar 2 bulan kemudian saya lanjut mengikuti Workshop STIFIn Lisensi Promotor (WSLP) karena ingin tahu lebih dalam.

Dan akhirnya dari proses yang sudah saya alami hingga saat ini, saya akhirnya menyadari satu hal. Bahwa dimanapun kita beraktifitas atau bekerja, pada dasarnya ada panggilan didalam hati kita. Namun kadang kita tidak menyadarinya.

Ketika saya kuliah dan merasakan ketidaknyamanan, saya mencari kompensasi dengan berorganisasi. Dan dari 5 organisasi yg saya ikuti semasa kuliah, saya baru sadar kalau ternyata kecenderungan panggilan hati seorang FEELING ada. 5 organisasi yg saya ikuti, semuanya itu saya pilih di bagian pengembangan manusia yg notabene akan berhubungan dengan manusia lain.

Ketika itu saya belum kenal STIFIn sama sekali. Saya hanya merasa bahwa ketika saya beraktifitas yg ada hubungannya dengan orang lain. Maka saya enjoy menjalaninya
Ketika saya bekerja di bagian keuangan dan lagi-lagi merasa stress. Saya menemukan kompensasi kembali. Kompensasi yang bisa membuat saya enjoy menjalani proses yang ada. Kompensasi yang belakangan saya tahu ternyata itu adalah PANGGILAN HATI saya. Kompensasi itu adalah ketika saya bisa melakukan training ke anggota tim saya. Lagi-lagi berhubungan dengan manusia.

Tanpa saya sadari, jauh sebelum saya mengenal STIFIn, ternyata kecenderungan khas MK Feeling sudah saya rasakan. Itu yg membuat hasil tes saya ketika itu rasanya memang GUE BANGET.
Maka yang saya pelajari dari perjalanan saya sampai saat ini adalah ketika kita beraktifitas atau menjalani sebuah profesi yg itu kurang sesuai dengan kita. Sebenarnya hati kita itu memanggil-manggil agar diri kita beraktifitas di tempat yg lebih sesuai dengan diri kita. Hanya saja terkadang karena padatnya aktifitas kita atau tekanan kehidupan kita, sehingga kita tidak menyadarinya atau mungkin malah menyadarinya namun justru tidak terlalu kita hiraukan.

Di profesi yang kita jalani yang mungkin tidak sesuai dengan diri kita tadi sbenarnya hati memanggil dan berusaha mengingatkan, itu sebabnya kadang hati kita merasa tidak nyaman. Bahasa umumnya mungkin ada orang yang sering bilang “ikuti kata hati”.Dan bagi saya, STIFIn membantu saya untuk menyadari panggilan hati saya.

Dan ternyata benar apa yg pernah disampaikan guru saya kek Jamil Azzaini, ketika kita mengikuti panggilan hati kita dan profesi yg kita jalani saat ini sesuai dengan panggilan hati, rasanya benar-benar luar biasa. Kesibukan di dunia training di internal perusahaan yg membuat saya harus melakukan training ke berbagai macam orang rasanya seperti sedang men

jalani hobi. Energi yang dikeluarkan itu diganti dengan enjoynya hati. Setiap kendala yang di alami, itu seperti menantang adrenalin diri yang membuat saya terpacu lebih jauh lagi meningkatkan kualitas

diri.

Sangat berbeda dengan dahulu ketika saya mengabaikan panggilan hati yang ternyata membuat saya merasakan stress dan ketidaknyamanan tanpa henti. Dan bagi rekan-rekan yg mungkin belum memahami panggilan hatinya seperti apa, maka STIFIn bisa menjadi salah satu alat bantu yang tepat bila kita mau memahami nya dengan tepat.

 

Copy dari Grup Telegram STIFIn Network

 

Promo2016-Banner Online 500pixel

Testimoni Bapak Hartono Sutrisno (Promotor STIFIn Makassar)

pin-pak-muja-04-2

Sekedar berbagi, anak saya Te goldar O, umur 9 thn, perempuan, saya ayahnya In goldar O, ibunya Fi goldar B. Fenotip anak saya, cerewet, kuat sekali ngobrol, baru berhenti ngobrol kalau sudah tidur.

Gaya bicaranya selalu mau mengatur, marah kalau kita tidak perhatian kalau dia lagi bicara, suka mengatur apa saja, telunjuknya sering banget keluar, di sekolah juga gitu. Semua harus pada tempatnya, barang2 yang berpindah tempat pasti jadi perhatiannya dan sering marah kalau barang2 yang diatur berpindah tempat (tidak di posisinya).

Secara teknikal anak saya Thinking banget, pandai matematika tanpa perlu diajar, bisa membaca di umur 4 tahun, sdh bisa berhitung di umur 5 tahun, dan itu tanpa diajari, tapi belajar sendiri dari nonton CD pipi panda yg ada di gramedia.

Sepintas anak saya seperti F krn suka banget ngobrol dan kalo dibacakan kisah nabi2 yang sedih, air matanya mudah sekali mengalir, sangat berempaty pada kesulitan orang lain, tapi mudah marah kalau ada yang kurang berkenan di hatinya.

Saya mendidiknya dgn pola F yang mengalir, dari bayi diajari mandiri, umur 3 bulan sdh pipis di wc, tdk pernah ngompol dan saya n ibunya aktif mengajak ngobrol sejak dia bayi. Dan kami berbicara layaknya menghadapi orang dewasa yang sdh berpikir, jadi anak saya di umur 1,2 tahun itu sdh lancar bicara dan berpikir bertingkat. Umur 2 tahun, sdh pandai menggunakan kata2 sulit yang seeing dia dengar dan dia cerna dgn baik.

Saya juga mengasuhnya dgn memberi ruang kebebasan tapi terukur, tegas untuk hal2 yang prinsip kendati dia harus nangis dan menjerit, kalau saya katakan tidak apapun yg terjadi tetap tidak, akhirnya dia mudah diajak berkompromi dan tidak suka memaksakan kehendak jika ada yg diinginkan.

Dari kecil (bayi), dia sdh saya ajari menilih baju dgn warna yang dia inginkan, dan itu berlangsung sampai sekarang, kedewasaan yang cepat sebagai
T di umur yg sekarang sangat terlihat terutama cara bicara dan berpikirnya. Pola asuh saya yg agak negatif karena kadang masih memanjakan, maklum belum ada adeknya.

So, anak T yg seperti F kalau dieksplorasi lebih jauh pasti akan terlihat T nya, dan pola asuh lingkungan F atau anak T yang punya respon F saya kira bukan hal yg negatif, justru akan membantu utk mempercepat kedewasaan terutama sikap bijaksana yg sangat dibutuhkan oleh seorang yg bertahta, bijaksana yg terukur dan penuh perhitungan tentunya sepeti gaya T. Sikap T yang tdk mau kalah dan mengalah untuk hal2 yang bersifat pendapat atau yang berhubungan dgn prestasi teyap akan sangat terlihat, walau tertutupi oleh sikap yg seperti F.

Untuk T sangat penting dipahamkan arti kekalahan atau kegagalan, sehingga suatu waktu mengalami hal tersebut, dia mudah berdamai dengan hatinya. Alhamdulillaah, anak saya beberapa kali ikut kompetisi selalu kalah, saya tahu dia kecewa bahkan sangat kecewa, tapi saya selalu membuatnya mengerti bahwa setiap kompetisi cuma punya satu pemenang, yang terpenting dari mengikuti kompetisi adalah bisa dapat pengalaman untuk menambah pengetahuan.

Dan kami orang tuanya tidak pernah membebani dia dengan target harus juara, tapi sebagai orang tua saya lebih meniyik beratkan pada proses, dan pengalaman menjadi kalah dan gagal bagi kami orang tuanya jauh lebih penting ketimbang dia meraih kemenangan dalam kompetisi dan membuat dia merasa harus menang terus. Dan jika itu terjadi, kekalahan bagi dia adalah kiamat.

Pola asuh dan pembiasaan pada anak apapun MK nya akan sangat menentukan arah anak itu kedepan. Demikian sekedar testimoni.

Copypaste dari Grup Alumni WSLP