Arsip Tag: Rumah STIFIn Makassar

STIFIn, Jalan Spiritual

 

wpid-imagesOleh: Wahyudin Qasal

Jika aku ditanya, bagaimana STIFIn bagimu? Bagiku STIFIn itu jalan spiritul. Sebagai jalan spriritual karena:

1. Jalan untuk mengenali diri sendiri. Jalan untuk mengenal Tuhan adalah dengan mengenali diri sendiri. Para ulama sering berkata:

من عرف نفسه فقد عرف ربه.

Walaupun dari sisi ilmu tasawuf, mengenal diri sendiri bisa menyentuh sisi lain lebih dari yang dijabarkan STIFIn. Namun STIFIn telah menjadi pondasi untuk langkah selanjutnya.

2. Sebagai jalan untuk mengenali orang lain. Tanpa perlu menertawakan yg berbeda dengan kita, tanpa perlu menghakimi pilihan peran yg berbeda dengan
plihan kita. Alih alih melakukan hal demikian lebih baik saling menerima.

3. Tentang kebaikan, orang akan berbeda- beda. Kebaikan bagi Sensing adalah adalah harta yg banyak, bagi Thingking adalah tahta, bagi Intuiting adalah ilmu, bagi Feeling adalah cinta, dan bagi Insting adalah kebahagiaan. Begitulah adanya, jika Intuiting menganggap yg terpenting adalah konsep, maka Thingking menganggap yg terpenting adalah  SOP, maka Sensing menganggap yg penting kerja. Feeling meneropong visi, akhirnya Insting selalu menjaga keseimbangan.

4. Pekerjaan itu tidak harus dengan uang sebagai target ujungnya, lebih dari itu, kenyamanan mengalahkan semuanya. Kenyamanan masing- masing mesin kecerdasan tidak akan pernah sama dengan  mesin kecerdasan lainnya. Oleh karena itu memaksakan dengan mengukur diri sendiri adalah kefatalan. Setiap orang punya ukuran tersendiri.

5. Dimana ada kelebihan di situ ada kekurangan. Bahkan kelebihan itu suatu waktu bahkan akan menjadi kelemahan di waktu yang lain. Saya bertemu dengan guru sufi baru baru ini, dari Tareqat tertentu. Di pertemuan itu saya menceritakan soal STIFIn, dia tersenyum lalu berujar,” jadi kalau begitu, apa yang memaksamu untuk terus angkuh dengan apa yg engkau miliki. Engkau ingin pamer harta kepada Insting padahal baginya adalah kebahagiaan yg utama? Engkau ingin pamer tahta kepada Intuiting, padahal dunia baginya dalam pandanganmu terlalu sempit. Ia punya dunia lain yg ia ciptakan sendiri
yg luasnya tak terjangkau olehmu, di sana ia bahkan menjadi raja. Bagaimana mungkin Intuiting harus berbangga dengan ilmunya kepada Sensing?Begitu seterusnya….”

6. Jalan surga setiap orang memang berbeda beda, sesuai dengan makanatnya, lanjut guru Sufi tersebut. Maka jangan pernah berburuk sangka jika menyaksikan orang yg terburu buru menyelesaikan shalatnya, setelah salam ia langsung bergegas keluar dari masjid. Boleh jadi ia lagi mengurusi keluarganya yang sakit, atau anaknya yg menanti kehadirannya di sisinya. Sebab jalan surga tidak harus melewati dzikir dan doa, tapi menafkahi keluarga juga adalah jalan surga. Yang ahli dzikir jangan lagi berbangga dengan zikirnya, yang ahli sedekah jangan lagi berbangga dengan sedekahnya, yang ustadz ahli ilmu gak lagi bangga dengan ilmunya.

7. Para sahabat Rasulullahpun tidak masuk surga dengan jalan yg sama. Bukankah Bilal terdengar terompahnya di surga karena wudhunya, bukankah Uwais al Qarni dijamin oleh Rasulullah di surga sebab berbakti pada ibunya, padahal di saat yg sama kumandang jihad sedang?

8. Akhirnya, STIFIn adalah seni mengelolah perbedaan…banyak lagi perbincangan kami…tak bisa disebutkan semuanya di sini. Trima kasih untuk gurunda kami Farid Poniman atas ilmu STIFIn ini. Semoga akan banyak manusia yg tercerahkan…

– puri taman sari, terinspirasi dari dialog bersama seorang sufi…maafkan, kutipan kalimat beliau mungkin gak persis sama–

Dicopy dari grup Alumni Workshop STIFIn Lisensi Promotor (WSLP)

MINAT Tes STIFIn ? KLIK dan DAFTAR TES

Promo2016-Banner Online 900pixel