Arsip Tag: Tes Mesin Kecerdasan

bernyanyi

Manfaat Nyanyi bagi tipe INSTING

bernyanyi

Oleh Dodi Rustandi

Kita sama-sama tahu tipe Insting itu klo udah marah, memungkinkan menampilkan gaya marah yang paling ga enak dilihat, temperamental istilahnya. Ada yang suka banting pintu sekeras-kerasnya, lempar-lempar barang yang ada disekitarnya, pukul-pukul meja dan lain sejenisnya.

Sesungguhnya tipe Insting itu suka akan kedamaian dan Paling ga suka melihat atau mendengar perdebatan.

Lalu kenapa tipe Insting itu bisa temperamental ?
Dari beberapa cerita klien, saat berkonsultasi ke saya, terbenarkan bahwa tipe Insting cenderung cepat marah jika ada pressure atau tekanan ke dirinya. Tekanan itu bisa macam-macam, bisa dari ortu yg sering cerewet ke anak Insting, bisa dari atasan yg tidak mau ngertiin bawahannya yg Insting, bisa dari teman yang tidak tektok komunikasinya dan lain sebagainya.

Terus bagaimana cara mengatasinya?

Belajar dari guru kehidupan saya yg bertipe Insting. Beliau yg dahulu klo marah begitu ditakuti, sekarang berubah. Salah satu rahasianya adalah karena beliau kini rutin berkumpul setiap Rabu dengan sahabat-sahabatnya utk bernyanyi bersama. Dengan bernyanyi seorang Insting mendapatkan manfaat utk mengendalikan temperamental nya .

Cobalah anda bernyanyi secara rutin. Bisa setiap pagi atau malam atau seminggu sekali.
Karena setidaknya ada 3 manfaat nyanyi bagi seorang Insting :

1. Bernyanyi itu menjauhkan diri dari tekanan.
2. Bernyanyi itu melepaskan emosi yang terpendam.
3. Bernyanyi itu membangkitkan energi Gamma dalam jiwa.

Nah, Akan lebih powerfull lagi dampaknya jika syair yg dilantunkan adalah Ayat-ayat Allah.

So, lets sing a Song…

Salam dari penyanyi “Mungkinkah…”
DR STIFInMan

#STIFInspirator

*Silahkan dishare jika manfaat

“Apakah Aku PRODUKTIF, atau Hanya SIBUK ?”

Oleh: Monde Ariezta Al Hassan
(Productivity Coach)

Dalam perannya sebagai manusia, kita dituntut untuk menjadi manusia yang berusaha memakmurkan bumi memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada semesta, bekerja dan beribadah dengan baik, serta menjalani hidup seutuhnya. Untuk itulah manusia melakukan berbagai hal di dunia ini dan mengisi waktu-waktu hidup mereka. Namun sayangnya, dari sekian apa yang dilakukan manusia, ada yang melakukan itu semua dengan kuantitas dan kualitas yang baik, ada juga yang sebaliknya. Mereka hanya sibuk melakukan berbagai hal tanpa terasa besok adalah jatuh tempo dan hasilnya kurang memuaskan. Padahal kita dilahirkan ke dunia ini dan tumbuh dengan susah payah, tapi yang kita hasilkan hanya biasa-biasa saja.

Paling tidak ada dua tipe manusia, yaitu PRODUKTIF dan SIBUK. Banyak sekali sumber-sumber dan buku-buku yang menjelaskan apa itu Produtif dan apa itu Sibuk dengan berbagai versi dan berbagai sudut pandang. Dalam sudut pandang agama Islam misalnya, produktif digambarkan sebagai orang yang ingat jikalau ia besok meninggal, dan bekerja berkarya sehebat mungkin seolah ia akan hidup lama di dunia. Atau dalam surat Al ‘Ashr, bahwa manusia produktif itu adalah manusia yang tidak merugi dalam menjalani waktu, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, saling menasehati kepada kebenaran dan kesabaran. Apa maksud dari petunjuk-petunjuk itu, tentu tidak akan cukup dibahas di sini. Namun paling tidak kita sudah memiliki gambaran seperti apa produktif itu.

Dari kacamata STIFIn, produktif itu sederhana : Fokus-Satu-Hebat. Kalau diterjemahkan bebas dalam konteks manajemen waktu, fokus berarti mengerjakan hal-hal yang prioritas dan sesuai dengan keteraturan, satu berarti kuantitas yang dikerjakan sedikit pada hal-hal yang efektif dan berdampak besar bagi hidup kita di dunia dan akhirat (ingat hukum Pareto 20:80?), hebat berarti apapun yang kita kerjakan memiliki kualitas yang tinggi baik di hadapan diri sendiri, orang lain, maupun Sang Pencipta.

Maka bagaimana dengan Sibuk? Bisa kita balik dari Fokus-Satu-Hebat, yaitu Random-Banyak-Nanggung. Orang banyak terjebak bahwa Produktif itu mampu mengerjakan banyak hal, tanpa tahu maknanya. Sehingga apa saja dikerjakan, kerjaan apapun diterima, berbagai komunitas dan organisasi ia ikuti tanpa tahu di mana track profesi/kebutuhannya, dan lain sebagainya. Seolah itu semua tampak baik dan positif, namun sesungguhnya akan berdampak kurang baik di masa mendatang.

1. Jika mengerjakan hal-hal vital namun berkualitas tinggi, berdampak besar/luas, dan memberi kita hasil panen, itu produktif.
2. Jika mampu mengerjakan banyak hal namun tetap berkualitas tinggi, itu produktif.
3. Jika mampu mengerjakan banyak hal lewat pengelolaan waktu yang baik dan benar, itu produktif.
4. Jika seimbang antara hak dan kewajiban (berapa lama kita bekerja, berapa lama kita istirahat atau rekreasi, berapa lama kita beribadah, berapa lama kita berolahraga, berapa lama kita mengembangkan diri, dst), itu produktif.Dalam ilmu manajemen, Produktivitas secara sederhana dirumuskan dengan I/O dimana I adalah Input atau apa yang kita kerjakan, dan O adalah Output atau apa yang kita hasilkan. Dalam konsep STIFIn, menurut saya Fokus dan Satu adalah Input, dan Hebat adalah Output. Output yang produktif paling tidak harus memiliki salah satu atau semuanya dari 3 (tiga) kriteria :
1. Berkualitas (nilai hasil kerjaan kita)
2. Berdampak besar/luas (kaitannya terhadap diri sendiri, keluarga dan orang banyak)
3. Memberi kita hasil panen (misal kita bekerja dengan baik dan benar, maka suatu saat akan memperoleh pendapatan, kekayaan, kesejahteraan dan tentu saja wajib meraih nilai yang sangat baik di akhirat, yaitu Surga)

Maka dilihat dari 3 kriteria output Produktif di atas, STIFIn juga memberi sumbangan panduan untuk menjadi produktif ala masing-masing mesin kecerdasan manusia yang sudah dibekali oleh Sang Pencipta sejak lahir, misal :

1. Orang SENSING akan produktif jika ia lebih banyak menggunakan mobilitasnya untuk menghasilkan banyak hasil. Ia mampu menghasilkan kuantitas yang banyak, meskipun bisa jadi dari segi kualitas kurang, tapi ia akan memenuhi kriteria “berdampak besar/luas” dan “memberi kita hasil panen”. Jika ia banyak diam, malas dan jarang menggerakkan badannya, maka ia tidak akan produktif.

2. Orang THINKING akan produktif jika ia lebih banyak menggunakan kemampuan perencanaan, pengelolaan dan pengorganisasiannya dengan baik. Dengan begitu, ia akan mampu menghasilkan kualitas hasil yang baik, meskipun bisa jadi kurang berdampak luas karena lama di perencanaan yang akurat. Maka ia perlu mengasah kemampuan perencanaan dan keahliannya agar ia dapat bekerja lebih cepat untuk dampak yang lebih luas. Tidak masalah, sebab dengan begitupun ia akan mampu memberi dampak yang besar/efektif dan akan mendapat hasil panen yang juga berkualitas. Jika ia kurang mampu merencanakan dan mengelola pekerjaan2nya dengan baik, ia sulit untuk produktif.

3. Orang INTUITING akan produktif jika ia lebih banyak menggunakan kemampuan kreativitasnya dan keluasan ilmunya dengan baik. Dengan begitu, ia akan mampu menghasilkan kualitas hasil yang sangat baik, meskipun bisa jadi kurang berdampak luas karena lama di perancangan/waktu ekstra yang ia butuhkan. Maka ia perlu mengasah jam terbang agar ia dapat bekerja lebih cepat dengan kreativitasnya. Tidak masalah, sebab dengan begitupun ia, dan akan mendapat hasil panen yang juga berkualitas. Jika ia kurang mampu mengandalkan kreativitasnya dan keluasan ilmunya, maka ia sulit produktif. Latihlah kreativitasnya dan perbanyak ilmunya.

4. Orang FEELING akan produktif jika ia lebih banyak bekerjasama dalam tim dengan orang-orang di sekitarnya serta menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Dengan begitu, ia akan mampu menghasilkan ketiga kriteria Output produktif dengan baik. Jika ia acuh dengan interaksi sosial atau tidak mampu melatih kepemimpinan, komunikasi dan kerjasamanya dengan orang lain, ia akan sulit produktif.

5. Orang INSTING akan produktif jika ia banyak memultitaskingkan pengabdiannya dan membantu banyak orang, serta banyak berperan di berbagai aktivitas. Dengan begitu, ia akan membuat dampak yang luas dan memperoleh hasil panen, meskipun bisa jadi dari segi kualitas tidak begitu tuntas. Untuk itu, meskipun ia tipe generalis yang serba bisa, sebaiknya tetap menggunakan pola fokus-satu-hebat dalam konteks yg lebih spesifik, yaitu memilih ia akan banyak berperan di entitas mana. Jika ia acuh dengan lingkungan sekitar dan tidak banyak berperan dan membantu orang lain, ia akan sulit produktif.

Demikian gambaran antara produktif dan sibuk. Semoga memberi pencerahan dan wawasan baru, serta tentunya bermanfaat bagi kita untuk kita aplikasikan mulai sekarang. Terima kasih.

Copypaste dari Grup Telegram Alumni WSLP